slot gacorBerita JurnalBerita JurnalBerita JurnalBerita JurnalBerita JurnalBerita JurnalBerita JurnalBerita JurnalBerita JurnalBerita Jurnalseputar indonesiaseputar indonesiaseputar indonesiaseputar indonesiaseputar indonesiamahjong waysmahjong waysmahjong waysmahjong waysmahjong waysseputar indonesiaseputar indonesiaseputar indonesiaseputar indonesiaseputar indonesiamahjong winsmahjong winsmahjong winsmahjong winsmahjong winsmahjong ways 1mahjong ways 2mahjong ways 3mahjong ways 4mahjong ways 5mahjong ways 6mahjong ways 7mahjong ways 8mahjong ways 9mahjong ways 10berita-conten899011berita-conten899012berita-conten899013berita-conten899014berita-conten899015berita-conten899016berita-conten899017berita-conten899018berita-conten899019berita-conten899020news899001news899002news899003news899004news899005news899006news899007news899008news899009news899010news899011news899012news899013news899014news899015news899016news899017news899018news899019news899020indonesia1indonesia2indonesia3indonesia4indonesia5indonesia6indonesia7indonesia8indonesia9indonesia10indonesia11indonesia12indonesia13indonesia14indonesia15indonesia16indonesia17indonesia18indonesia19indonesia20news12092025001news12092025002news12092025003news12092025004news12092025005news12092025006news12092025007news12092025008news12092025009news12092025010news12092025011news12092025012news12092025013news12092025014news12092025015news12092025016news12092025017news12092025018news12092025019news1209202502012011202120312041205120612071208120912101211121212131214121512161217121812191220berita11302025021berita11302025022berita11302025023berita11302025024berita11302025025berita11302025026berita11302025027berita11302025028berita11302025029berita11302025030berita11302025031berita11302025032berita11302025033berita11302025034berita11302025035berita11302025036berita11302025037berita11302025038berita11302025039berita11302025040smm panel murahkencang77slot gacor

RUU Narkotika Disorot, BNN Minta Kewenangan Penyadapan Diperkuat

RUU Narkotika Disorot, BNN Minta Kewenangan Penyadapan Diperkuat

 

RUU Narkotika Disorot, BNN Minta Kewenangan Penyadapan Diperkuat

Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) RI, Suyudi Ario Seto, menyoroti pentingnya kewenangan penyadapan dalam upaya pengungkapan kasus narkotika di Indonesia.

Menurut Suyudi, saat ini masih terdapat perbedaan pandangan antar lembaga penegak hukum, seperti Kejaksaan Agung dan Mahkamah Agung, terkait waktu pelaksanaan penyadapan.

Sebagian pihak menilai penyadapan sebaiknya dilakukan pada tahap penyidikan, dengan merujuk pada prinsip hak asasi manusia dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR).

Namun, Suyudi berpandangan bahwa penyadapan justru perlu dilakukan sejak tahap penyelidikan untuk meningkatkan efektivitas penanganan kasus.

“Kewenangan penyadapan sangat penting sejak tahap awal untuk memetakan jaringan kejahatan,” kata Suyudi dalam RDPU bersama Komisi III DPR dan Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (7/4).

 

Suyudi menjelaskan, teknik penyelidikan khusus seperti penyadapan, controlled delivery, dan undercover buy merupakan bagian dari aktivitas intelijen yang bersifat tertutup.

Metode tersebut tidak semata-mata bertujuan untuk langsung menghadirkan alat bukti di pengadilan, melainkan untuk memperoleh bukti permulaan dan memetakan jaringan peredaran narkotika.

“Dengan penyadapan sejak penyelidikan, kita bisa menentukan apakah seseorang pengguna atau bagian dari jaringan,” ujarnya.

Di sisi lain, Kejaksaan disebut mengusulkan agar kewenangan penyadapan hanya dimiliki penyidik BNN, seperti praktik di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Namun, Suyudi menilai usulan tersebut masih perlu dikaji lebih dalam, mengingat banyak penyidik BNN berasal dari kepolisian.

Ia juga menyoroti ketentuan dalam KUHAP baru yang membatasi penyadapan hanya pada tahap penyidikan. Menurutnya, pembatasan tersebut berpotensi menghambat pengungkapan kasus narkotika yang bersifat tertutup dan bergerak secara senyap.

BNN mendorong agar Rancangan Undang-Undang (RUU) Narkotika mengatur secara tegas kewenangan penyadapan sebagai aturan khusus (lex specialis).

Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat efektivitas pemberantasan narkotika di Indonesia.